Agama lah yang melatari kekacauan. Jelas bukan menurut sebagain orang yang percaya bahwa agama adalah apa yang dia percaya untuk membimbingnya menuju kedamaian. Tetapi biar bagaimanapun saya melihat, secara mata telanjang jelas-jelas Agama lah yang membuat perbedaan itu dan memicu konflik di berbagai penjuru dunia. Dan tentu saja Indonesia.
Manusia Indonesia secara keseluruhan akan berbeda pendapat dengan perkataan saya di atas. Sulit untuk menetapkan sesuatu yang sakral seperti itu (agama) menjadi hal yang membawa keburukan. Tidak mungkin Agama yang berisi berbagai ajaran baik menjadi hal yang memicu sebuah kekacauan dan perasaan merasa berbeda dengan pemeluk agama lain. Tetapi mau bagaimana? Kita tidak hidup dalam teori, begitulah kondisi yang nyata terjadi di atas tanah Indonesia ini, tiap Agama membuat dinding tinggi yang sangat sensitif.
Di Indonesia keadaan lebih menyedihkan, orang di sekitar saya begitu mempermasalahkan Agama. Seorang Cowok akan segera putus asa begitu mengetahui ia berbeda Agama dengan cewek incarannya. Saya sejak dulu merasa hal ini adalah sebuah kebodohan, SAYA LEBIH SETUJU DUA ORANG BERBEDA AGAMA BERSATU KARENA CINTA, DARIPADA DUA ORANG YANG SALING MENCINTAI BERPISAH KARENA AGAMANYA. Dan mereka yang sering bertanya kau agama apa? dia agama apa? mereka agama apa? adalah tipe orang menyebalkan bagi saya. Apa yang kau ributkan dengan Agama, mereka manusia sama seperti mu. Saya lebih menghargai seseorang yang bertanya "orang itu dari Planet apa?"
Lalu saya mencoba mendefinisikan Agama itu sebenarnya apa. Dan saya memperoleh agama adalah sebuah kepercayaan. Oleh karena itu dimata saya semua orang adalah beragama dan percaya adanya Tuhan dalam berbagai versinya. Bahkan mereka yang mengaku atheis/tidak beragama bagi saya termasuk memiliki Tuhan dan beragama. Sama saja kan, kepercayaan mereka adalah tidak ada Tuhan, oleh karena itu mereka percaya pada diri sendiri yang berkuasa diatasnya, Tuhan adalah dirinya sendiri. Kita tidak bisa mengatakan mereka salah dan kita benar. Dalam kondisi sebaliknya kita adalah salah dan mereka benar. Mempermasalahkan benar salah inilah yang kadang memicu konflik. Betapa inginnya saya mengatakan kita semua benar. Kau percaya seperti itu benar, saya percaya seperti ini benar, sungguh tidak ada yang salah!
Sejauh ini tulisan saya, saya menyadari kekacauan yang terjadi bisa dilihat lebih jauh lagi akar permasalahannya. Masih ada sesuatu setelah agama, agama hanya digunakan sebagai mediasi. Dan sejak awal manusia serakahlah yang menjadi awal kekacauan, manusia ingin kekuasaan, ingin kemasyuran, ingin pembuktian bahkan kekayaan. Sehingga Agama menjadi tameng dan pendorong untuk memicu pertikaian.
Jika sekali lagi saya ingin mengatakan kekacauan disebabkan karena Agama. Agama akan kembali bertanya pada saya; "Apa dalam ajaran saya ada perintah untuk berperang? Apa saya memintamu untuk menjadi sensitif dengan orang lain?" Mungkin ada beberapa Agama yang menginginkan seseorang menikah dengan mereka yang se-iman. Lalu kenapa ini diartikan lain, saya menangkap kalimat se-iman adalah manusia yang percaya pada kebaikan. Apa kita tidak boleh menikahi manusia yang baik, hanya karena ia berbeda Agama. Tetapi sampai saat ini syukurlah tidak ada seseorang yang masuk penjara karena menikah beda Agama. Saat itu terjadi saya akan sangat khawatir dua-tiga hari lagi Bumi ini akan berhenti berotasi.
Yang saya tarik, kita tidak bisa dengan mudah mengatakan Agama lah yang memicu perang. Ada manusia picik yang berperan didalamnya untuk kepentingan kelompok atau pribadi. Menurut saya janganlah kita terlalu merasa paling benar dalam hal ini, sebagian besar pemeluk Agama, memperoleh agamanya sejak dia lahir dan memperoleh ajaran-ajaran sesuai Agama yang dianutnya. Lalu apa seseorang yang memperoleh sesuatu tanpa dia pertimbangkan itu berhak mengatakan dia paling benar dan orang lain salah. Jika mau salahkan orang lain, salahkanlah Tuhan, kenapa mereka terlahir di agama berbeda. Tetapi itu tidak mungkinkan.
Seperti yang dikatakan seorang tokoh India yang saya lupa namanya; "Kita harus menyadari, perbedaan bangsa, Agama, Ras, Sistem Politik semuanya itu berada di level 2. Biar bagaimanapun kita harus tetap kembali ke lv. 1 dan menyadari mereka yang berbeda itu adalah sesama manusia ciptaan Tuhan yang kita percaya. Seberapa berbedanya, kita tetap sama sebagai manusia."
Tentang Agama dan Kekacauan Yang TImbul
Diposting oleh
Galang Ekaputra Larope
di
00.40
Kamis, 01 Juli 2010
Boring Dragon, too lazy just for keep his treasure
Diposting oleh
Galang Ekaputra Larope
di
09.33
Rabu, 23 Juni 2010
Label:
dragon
,
galang ekaputra larope
Ayo menulis!
Diposting oleh
Galang Ekaputra Larope
di
08.09
Kamis, 17 Juni 2010
Label:
buku harian
,
catatan
,
galang ekaputra larope
Jangan terjatuh dari kursi anda oleh judul di atas atau tiba-tiba menjadi klepto dan mencuri seluruh isi Indomaret yang terkenal sbg minimarket resmi aksesoris World cup 2010.
"Bagaimana mungkin tidak akan terpeleset, saya tahu anda seorang mahasiswa DKV dan jelas-jelas tampang anda jauh dari seorang sastrawan, bagaimana mungkin anda memposisikan diri sebagai aktifis kegiatan rajin menulis?" kata seorang sahabat entah dari mana.
Sejujurnya saya tidak tahu siapa sahabat yang ngoceh itu, dan saya tidak akan berniat minta maaf sama sekali atas fenomena membingungkan ini (sy menggunakan kata fenomena agar permasalhan terdengar lebih kompleks).
Posisi sy memang kurang etis dalam hal ini, tetapi satu hal yang jelas, saya suka tulisan dan menulis. Jadi tidak masalahkan jika saya mengajak orang lain agar menyukai apa yang saya suka. Jika ini menjadi masalah anda sehingga kemudian tidak bisa tidur,... itu sangat lucu, dan menyenangkan bagi saya. Membuat orang yg tak dikenal tidak bisa tidur itu menyenangkan. Apa? sya mendengar ada yang mengatakan, "Kau mengganggu bangsat!"
Kita ke topik saja, jujur saya sangat tidak suka basa-basi. Dan empat paragraf diatas bukan basa -basi itu hanya sekedar omong kosong. Saya memperoleh teknik baru dalam penulisan yang saya sebut interview diri sendiri, bacaan seperti ini kemungkinan di baca seseorang lebih tinggi dari sekedar menulis beratus-ratus paragraf. Jadi kita langsung saja..
W: Sejak kapan anda menulis?
G: Kenapa anda bertanya seolah-olah anda wartawan majalah sastra?
W: .........
G: Oke itu bercanda, saya menulis sejak kelas 6 sd
W: bisa diceritakan knp anda bisa menulis?
G: Kali ini anda benar2 seperti wartawan majalah sastra... dimana anda belajar?
W: Hey, bisa tidak tanpa bercanda seperti itu, semua tahu ini hanya percakapan yang dibuat satu orang. Sang penulis bisa terlihat berkepribadian ganda, kurasa tampangnya sudah cukup membuat hidupnya menyedihkan, jangan ditambah isu -isu kepribadian ganda.
G: Oke, oke saya mengenal kondisinya, tetapi saya hanya berusaha membuat tulisan ini terlihat lebih lucu.
W: Jawab saja!
G: Ah, ya waktu itu yang jelas bukan pelajaran matematika, kelas saya disuruh menulis catatan sehari-hari seperti buku harian. Sejak saat itu saya menulis walaupun terputus-putus.
W: Ceritakan kenapa anda bisa terus menulis?
G: Tunggu, sejenak saya berpikir saya seperti orang bodoh, membuat pertanyaan sendiri dan menjawabnya sendiri pula.
W: Saya sejak awal merasa seperti itu,...
G: Jadi apa kita lanjutkan?
W: Sudah terlanjur di cap bodoh oleh orang yang mungkin membaca ini, jika dihentikan, tetap saja terlihat bodoh, jadi lanjutkan saja, jawab saja pertanyaan sebelumnya..
G: Hm.. ada hal yang menarik dari kegiatan menulis catatan sehari-hari, menulis setiap pemikiran anda setiap hari itu akan sangat berguna sehingga di kemudian hari anda bisa mengevaluasi segala pemikiran anda sejak kecil dan melihat bagaimana otak anda berkembang.
Apa anda akan bertanya lagi?
W: lanjutkan saja..
G: Jadi seperti menulis kegiatan sehari-hari, aktifitas anda disebuah buku akan membuat anda sadar bahwa selama ini hidup anda memiliki suatu pola yg berkembang, yang belakangan saya sadari setelah membaca kembali catatan-catatan lama. Bagaimana di masa SMP saya hanya berpikir tentang hubungan relasi antar teman-teman, dan bagaimana saya melihat gadis yang saya suka, kemudian memasuki kelas yang tinggi dimana saya mulai mengkhawatirkan akan apa yang saya lakukan kedepan. Dan berpikir lebih kompleks tentang sebab akibat.
Semua itu tercatat dengan baik di buku catatan, dan banyak pemikiran saya yang saya tulis disana. Saya kaget sendiri ternyata saya sudah memikirkan pemerintahan Indonesia sejak kelas 3 SMP, dimana, saya menulis sesuatu yg bahkan sy sendiri terkadang berpikir, knp sy bisa menulis seperti itu. tulisan kecil itu seperti ini, "Negara ini lucu mengadakan UAN, selamanya pemerintahan akan berjalan kaku jika tidak ada perubahan dari pemerintah, pergerakan!"
Apa ini masih wawancara?
W: saya masih disini, menarik..
G: Saya sendiri selalu tak menyangka dengan apa yang saya pikirkan dulu..
W: Bukan itu, kata-kata tentang "melihat gadis yang saya sukai." Saya bisa membayangkan anda seperti laki-laki penakut.
G: Kurasa kita membicarakan masalah yang lebih kompleks saat ini..
W: Anda sudah bercerita tentang masa SMP, bagaimana dengan SMA? Saya yakin anda masih mencatat tentang mengintip gadis yang disukai..
G: Hey, apa anda menyadari anda menyindir diri sendiri?
W: Ada yang salah dengan menyindir diri sendiri? Kurasa tidak.. ayo ceritakan lagi tentang kecacatan anda yang lain..
G: ..... Di masa SMA, saya mencatat tentang bagaimana saya memutuskan pindah ke SMA yg lebih bermutu. Di masa ini kegiatan menulis cukup kurang karena proses pembelajaran yg cukup intens.. hingga akhir SMA kelas 3 saya mencatat tentang bagaimana dilema saya tentang UAN yang saya publish di facebook. Berjudul, SISI TERGELAP UJIAN NASIONAL, ini tulisan yang terpengaruh dari catatan saya dimasa SMP.
Selanjutanya saya masih terus mencatat berbagai hal-hal yang terjadi di Indonesia, dari gempa bumi, berita yang menghebohkan dunia, dan berbagai istilah2 yg menurut saya penting. Semuanya tercatat tidak rapi, dan berbagai selipan catatan kecil.
W: Saya sangat sedih..
G: Anda seharusnya bangga, kenapa?
W: Anda bahkan tidak menyinggung sama sekali tentang seorang gadis..., dibanding SMP ini jauh lebih menyedihkan
G: ..... Mengenai hal itu..., (membolak-balik halaman) kurasa saya menulis beberapa gadis, tetapi sepertinya saya lebih tertarik dengan hal-hal yang lebih kompleks sehingga mereka terlupakan.
W: Terdengar sangat familiar, berusaha melupakan karena tidak mampu..
G: Kurasa kita semua mengerti perbedaan imbuhan ter- dan me-, bisa beri saya pertanyaan yang lain?
W: Anda gay?
G: Kurasa anda perlu melihat koleksi majalah porno saya.., dimana point yg menghubungkan menulis dengan perilaku menyimpang itu?
W: Jadi anda normal?
G: Saya bahkan lebih normal dari seorang Arjuna. Apa anda akan kembali ke topik utama? Atau saya pulang saja..
W: Hmm, anda hanya menulis catatan sehari-hari, apa anda pernah menulis sebuah novel atau cerita?
G: Sering sekali, sejak SD walaupun itu dalam bentuk komik, kemudian saya pernah menulis novel tentang kekacauan dunia dimasa depan, berbau permainan politik dan perang antar negara, dengan intinya penciptaan mesin waktu yang mengakibatkan negara-negara saling berperang merebutkan mesin itu.
W: Apa novel itu selesai?
G: Tidak selesai, karena laptop saya yg di instal ulang dan datanya hilang, hanya sepupu2 saya yang pernah membaca cerita itu hingga halaman ke-60an Microsoft word dengan ukuran font 12.
Kemudian banyak lagi cerita-cerita yang saya tulis, ada yang selesai dan ada yang tidak selasai karena tersesat sendiri di tengah cerita.
W: Lalu betapa percaya dirinya anda mengajak orang lain menulis dengan rekor menulis yang buruk seperti itu...
G: Jangan terlalu menekan saya dengan hal sepele,
W: Sebutkan judul-judul cerita yang pernah anda tulis, saya cukup siap mendengar judul-judul norak..
G: Perahu masa depan, Leo, lengkingan di Laboratorium, Hati yang tak selesai, Githa dan Sherlock Holmes Palsu, ada beberapa lagi namun tak berjudul,
W: dari judul-judul diatas mana yang selesai?
G: Lengkingan di Laboratorium, Githa dan Sherlock Holmes Palsu... Leo sebenarnya selesai tapi ikut hilang bersama Perahu masa Depan.
W: Astaga, cuma 2?!!
G: ......eh, 3
W: Kurasa 2, anda benar-benar tak tahu malu mengajak orang lain menulis!
G: Saya pulang..
W: Tunggu dulu, buat pesan terakhir anda?
G: Apa maksudnya pesan terakhir? Sebagai wartawan perhatikan bahasa yang anda gunakan.., ajakan terakhir di wawancara bodoh ini.
Satu hal yang pasti menulis itu memberi manfaat bagi anda. Sejak dulu tulisan terkadang lebih jujur dari kata-kata sehingga terciptalah surat. Dengan menuliskan pemikiran anda pada sesuatu, tanpa anda sadari, anda akan mampu melihat sesuatu lebih dalam dengan menalaah setiap kata-kata yang anda tulis. Secara tidak langsung anda kemudian akan lebih mengenal diri anda dan menjadi lebih terbuka dengan setiap kejadian.
Mulailah menulis apa saja. Jika anda orang yang mengutamakan persahabatan tulislah bagaimana sahabat anda hari ini atau hubungan anda dengan sesama. Atau seorang yang mengamati perkembangan perpolitikan di Indonesia, tulislah bagaimana kasus Ariel Luna yang mampu menutupi pemeriksaan kasus Bibiet - Chandra, ataupun anda gemar yang lain tulislah tentang hal itu.
Anggaplah setiap anda menulis, anda meninggalkan jejak dibumi ini. Walaupun mungkin saya tidak sehebat orang-orang besar yang pernah menulis karya sastra luar biasa, tetapi biarlah catatan kecil tulisan saya bisa menjadi pesan untuk seseorang dimasa depan. Saya selalu bersemangat jika membayangkan cucu-cucu saya membaca tulisan kakeknya di masa lalu.
W: Hey, apa kau lupa saya masih disini..
"Bagaimana mungkin tidak akan terpeleset, saya tahu anda seorang mahasiswa DKV dan jelas-jelas tampang anda jauh dari seorang sastrawan, bagaimana mungkin anda memposisikan diri sebagai aktifis kegiatan rajin menulis?" kata seorang sahabat entah dari mana.
Sejujurnya saya tidak tahu siapa sahabat yang ngoceh itu, dan saya tidak akan berniat minta maaf sama sekali atas fenomena membingungkan ini (sy menggunakan kata fenomena agar permasalhan terdengar lebih kompleks).
Posisi sy memang kurang etis dalam hal ini, tetapi satu hal yang jelas, saya suka tulisan dan menulis. Jadi tidak masalahkan jika saya mengajak orang lain agar menyukai apa yang saya suka. Jika ini menjadi masalah anda sehingga kemudian tidak bisa tidur,... itu sangat lucu, dan menyenangkan bagi saya. Membuat orang yg tak dikenal tidak bisa tidur itu menyenangkan. Apa? sya mendengar ada yang mengatakan, "Kau mengganggu bangsat!"
Kita ke topik saja, jujur saya sangat tidak suka basa-basi. Dan empat paragraf diatas bukan basa -basi itu hanya sekedar omong kosong. Saya memperoleh teknik baru dalam penulisan yang saya sebut interview diri sendiri, bacaan seperti ini kemungkinan di baca seseorang lebih tinggi dari sekedar menulis beratus-ratus paragraf. Jadi kita langsung saja..
W: Sejak kapan anda menulis?
G: Kenapa anda bertanya seolah-olah anda wartawan majalah sastra?
W: .........
G: Oke itu bercanda, saya menulis sejak kelas 6 sd
W: bisa diceritakan knp anda bisa menulis?
G: Kali ini anda benar2 seperti wartawan majalah sastra... dimana anda belajar?
W: Hey, bisa tidak tanpa bercanda seperti itu, semua tahu ini hanya percakapan yang dibuat satu orang. Sang penulis bisa terlihat berkepribadian ganda, kurasa tampangnya sudah cukup membuat hidupnya menyedihkan, jangan ditambah isu -isu kepribadian ganda.
G: Oke, oke saya mengenal kondisinya, tetapi saya hanya berusaha membuat tulisan ini terlihat lebih lucu.
W: Jawab saja!
G: Ah, ya waktu itu yang jelas bukan pelajaran matematika, kelas saya disuruh menulis catatan sehari-hari seperti buku harian. Sejak saat itu saya menulis walaupun terputus-putus.
W: Ceritakan kenapa anda bisa terus menulis?
G: Tunggu, sejenak saya berpikir saya seperti orang bodoh, membuat pertanyaan sendiri dan menjawabnya sendiri pula.
W: Saya sejak awal merasa seperti itu,...
G: Jadi apa kita lanjutkan?
W: Sudah terlanjur di cap bodoh oleh orang yang mungkin membaca ini, jika dihentikan, tetap saja terlihat bodoh, jadi lanjutkan saja, jawab saja pertanyaan sebelumnya..
G: Hm.. ada hal yang menarik dari kegiatan menulis catatan sehari-hari, menulis setiap pemikiran anda setiap hari itu akan sangat berguna sehingga di kemudian hari anda bisa mengevaluasi segala pemikiran anda sejak kecil dan melihat bagaimana otak anda berkembang.
Apa anda akan bertanya lagi?
W: lanjutkan saja..
G: Jadi seperti menulis kegiatan sehari-hari, aktifitas anda disebuah buku akan membuat anda sadar bahwa selama ini hidup anda memiliki suatu pola yg berkembang, yang belakangan saya sadari setelah membaca kembali catatan-catatan lama. Bagaimana di masa SMP saya hanya berpikir tentang hubungan relasi antar teman-teman, dan bagaimana saya melihat gadis yang saya suka, kemudian memasuki kelas yang tinggi dimana saya mulai mengkhawatirkan akan apa yang saya lakukan kedepan. Dan berpikir lebih kompleks tentang sebab akibat.
Semua itu tercatat dengan baik di buku catatan, dan banyak pemikiran saya yang saya tulis disana. Saya kaget sendiri ternyata saya sudah memikirkan pemerintahan Indonesia sejak kelas 3 SMP, dimana, saya menulis sesuatu yg bahkan sy sendiri terkadang berpikir, knp sy bisa menulis seperti itu. tulisan kecil itu seperti ini, "Negara ini lucu mengadakan UAN, selamanya pemerintahan akan berjalan kaku jika tidak ada perubahan dari pemerintah, pergerakan!"
Apa ini masih wawancara?
W: saya masih disini, menarik..
G: Saya sendiri selalu tak menyangka dengan apa yang saya pikirkan dulu..
W: Bukan itu, kata-kata tentang "melihat gadis yang saya sukai." Saya bisa membayangkan anda seperti laki-laki penakut.
G: Kurasa kita membicarakan masalah yang lebih kompleks saat ini..
W: Anda sudah bercerita tentang masa SMP, bagaimana dengan SMA? Saya yakin anda masih mencatat tentang mengintip gadis yang disukai..
G: Hey, apa anda menyadari anda menyindir diri sendiri?
W: Ada yang salah dengan menyindir diri sendiri? Kurasa tidak.. ayo ceritakan lagi tentang kecacatan anda yang lain..
G: ..... Di masa SMA, saya mencatat tentang bagaimana saya memutuskan pindah ke SMA yg lebih bermutu. Di masa ini kegiatan menulis cukup kurang karena proses pembelajaran yg cukup intens.. hingga akhir SMA kelas 3 saya mencatat tentang bagaimana dilema saya tentang UAN yang saya publish di facebook. Berjudul, SISI TERGELAP UJIAN NASIONAL, ini tulisan yang terpengaruh dari catatan saya dimasa SMP.
Selanjutanya saya masih terus mencatat berbagai hal-hal yang terjadi di Indonesia, dari gempa bumi, berita yang menghebohkan dunia, dan berbagai istilah2 yg menurut saya penting. Semuanya tercatat tidak rapi, dan berbagai selipan catatan kecil.
W: Saya sangat sedih..
G: Anda seharusnya bangga, kenapa?
W: Anda bahkan tidak menyinggung sama sekali tentang seorang gadis..., dibanding SMP ini jauh lebih menyedihkan
G: ..... Mengenai hal itu..., (membolak-balik halaman) kurasa saya menulis beberapa gadis, tetapi sepertinya saya lebih tertarik dengan hal-hal yang lebih kompleks sehingga mereka terlupakan.
W: Terdengar sangat familiar, berusaha melupakan karena tidak mampu..
G: Kurasa kita semua mengerti perbedaan imbuhan ter- dan me-, bisa beri saya pertanyaan yang lain?
W: Anda gay?
G: Kurasa anda perlu melihat koleksi majalah porno saya.., dimana point yg menghubungkan menulis dengan perilaku menyimpang itu?
W: Jadi anda normal?
G: Saya bahkan lebih normal dari seorang Arjuna. Apa anda akan kembali ke topik utama? Atau saya pulang saja..
W: Hmm, anda hanya menulis catatan sehari-hari, apa anda pernah menulis sebuah novel atau cerita?
G: Sering sekali, sejak SD walaupun itu dalam bentuk komik, kemudian saya pernah menulis novel tentang kekacauan dunia dimasa depan, berbau permainan politik dan perang antar negara, dengan intinya penciptaan mesin waktu yang mengakibatkan negara-negara saling berperang merebutkan mesin itu.
W: Apa novel itu selesai?
G: Tidak selesai, karena laptop saya yg di instal ulang dan datanya hilang, hanya sepupu2 saya yang pernah membaca cerita itu hingga halaman ke-60an Microsoft word dengan ukuran font 12.
Kemudian banyak lagi cerita-cerita yang saya tulis, ada yang selesai dan ada yang tidak selasai karena tersesat sendiri di tengah cerita.
W: Lalu betapa percaya dirinya anda mengajak orang lain menulis dengan rekor menulis yang buruk seperti itu...
G: Jangan terlalu menekan saya dengan hal sepele,
W: Sebutkan judul-judul cerita yang pernah anda tulis, saya cukup siap mendengar judul-judul norak..
G: Perahu masa depan, Leo, lengkingan di Laboratorium, Hati yang tak selesai, Githa dan Sherlock Holmes Palsu, ada beberapa lagi namun tak berjudul,
W: dari judul-judul diatas mana yang selesai?
G: Lengkingan di Laboratorium, Githa dan Sherlock Holmes Palsu... Leo sebenarnya selesai tapi ikut hilang bersama Perahu masa Depan.
W: Astaga, cuma 2?!!
G: ......eh, 3
W: Kurasa 2, anda benar-benar tak tahu malu mengajak orang lain menulis!
G: Saya pulang..
W: Tunggu dulu, buat pesan terakhir anda?
G: Apa maksudnya pesan terakhir? Sebagai wartawan perhatikan bahasa yang anda gunakan.., ajakan terakhir di wawancara bodoh ini.
Satu hal yang pasti menulis itu memberi manfaat bagi anda. Sejak dulu tulisan terkadang lebih jujur dari kata-kata sehingga terciptalah surat. Dengan menuliskan pemikiran anda pada sesuatu, tanpa anda sadari, anda akan mampu melihat sesuatu lebih dalam dengan menalaah setiap kata-kata yang anda tulis. Secara tidak langsung anda kemudian akan lebih mengenal diri anda dan menjadi lebih terbuka dengan setiap kejadian.
Mulailah menulis apa saja. Jika anda orang yang mengutamakan persahabatan tulislah bagaimana sahabat anda hari ini atau hubungan anda dengan sesama. Atau seorang yang mengamati perkembangan perpolitikan di Indonesia, tulislah bagaimana kasus Ariel Luna yang mampu menutupi pemeriksaan kasus Bibiet - Chandra, ataupun anda gemar yang lain tulislah tentang hal itu.
Anggaplah setiap anda menulis, anda meninggalkan jejak dibumi ini. Walaupun mungkin saya tidak sehebat orang-orang besar yang pernah menulis karya sastra luar biasa, tetapi biarlah catatan kecil tulisan saya bisa menjadi pesan untuk seseorang dimasa depan. Saya selalu bersemangat jika membayangkan cucu-cucu saya membaca tulisan kakeknya di masa lalu.
W: Hey, apa kau lupa saya masih disini..
sepertinya dunia akan lebih aneh lagi
Diposting oleh
Galang Ekaputra Larope
di
05.21
Rabu, 19 Mei 2010
Facebook scara tdk langsung sdh menjadi dunia dgn dimensi lain bagi sebagian org yang dikategorikan "addicted", sy mengamati saat mereka memasuki dunia tersebut (via smartphone bernama aneh Blackberry), mereka seperti robot dengan pikiran yg tak berada di lingkungan dimana mereka berada.
Suatu kejadian saat sy sedang di lift sehabis kuliah, 2 orang wanita kira 20 tahunan, masuk berurutan kedalam lift seperti robot. bagaimana tidak? Mereka berjalan tanpa melihat lingkungan sekitar, mata hanya terkonsentrasi di layar blackberry, dan jempol mereka aktif bergerak di pads mobile gemuk itu mengeluarkan suara "tik tik tik tuk tik, seperti robot. Saya yakin dua org ini berteman, tapi sepertinya mereka lbh tertarik ngobrol dengan seseorang yg jauh menggunakan huruf2, ketimbang berbicara secara langsung. Entahlah sepertinya hal itu lebih berseni sedikit. Saat sy sampai dilantai tujuan saya di lt. 9, mereka masih asyik mengeluarkan bunyi tik tik tik tik tuk itu, hingga kemudian tersadar mereka lupa menekan lantai tujuan. Sebelum saya benar2 keluar lift, sy mengintip, santai saja salah seorang menekan lt. 5, dan kembali mengeluarkan suara tik tik tik tik.
Tak ada yang salah dengan hal itu, hanya saja, sejenak membayangkan bagaimana untuk berapa tahun kedepan, sepertinya dunia akan lebih aneh lagi..
Suatu kejadian saat sy sedang di lift sehabis kuliah, 2 orang wanita kira 20 tahunan, masuk berurutan kedalam lift seperti robot. bagaimana tidak? Mereka berjalan tanpa melihat lingkungan sekitar, mata hanya terkonsentrasi di layar blackberry, dan jempol mereka aktif bergerak di pads mobile gemuk itu mengeluarkan suara "tik tik tik tuk tik, seperti robot. Saya yakin dua org ini berteman, tapi sepertinya mereka lbh tertarik ngobrol dengan seseorang yg jauh menggunakan huruf2, ketimbang berbicara secara langsung. Entahlah sepertinya hal itu lebih berseni sedikit. Saat sy sampai dilantai tujuan saya di lt. 9, mereka masih asyik mengeluarkan bunyi tik tik tik tik tuk itu, hingga kemudian tersadar mereka lupa menekan lantai tujuan. Sebelum saya benar2 keluar lift, sy mengintip, santai saja salah seorang menekan lt. 5, dan kembali mengeluarkan suara tik tik tik tik.
Tak ada yang salah dengan hal itu, hanya saja, sejenak membayangkan bagaimana untuk berapa tahun kedepan, sepertinya dunia akan lebih aneh lagi..
The Beast and the beauty
Saya tidak yakin apa sebenarnya monster ini. Belakangan saya sering menggunakan Photoshop untuk digital painting, beberapa saat yang lalu entah mengapa Corel Painter 11 yg sering di anak tirikan menarik perhatian saya. Software itu saya buka dan sekedar mencoba-coba apa yang di tawarkan software keluaran corel ini jadilah mahluk berwarna kuning di atas. Hasilnya saya suka, dan sepertinya saya akan segera berpindah ke corel Painter untuk Digital painting.
And look at my new sign. Pretty cool, isn't? What? It's bad? LANG, okay, too simple and little stupid, but I can't use my brain fully just for a nick. Saya memikirkan tentang GAL, GEL, but, agak terkesan banci menurut saya. Mungkin karena Girl jika dibaca terdengar seperti Gal atau Gel.
MY FIRST REALIS PAINT with Dakota Fanning
Saya seorang warga Negara Indonesia yang sangat bangga pada negaranya. Mimpi saya seluruh warga Indonesia bisa memiliki semangat Nasionalisme dan rela berkorban demi negara ini.
Tapi satu hal yang sangat menyebalkan Dakota Fanning selalu membuat saya ingin menjadi orang Amerika.






