Jangan terjatuh dari kursi anda oleh judul di atas atau tiba-tiba menjadi klepto dan mencuri seluruh isi Indomaret yang terkenal sbg minimarket resmi aksesoris World cup 2010.
"Bagaimana mungkin tidak akan terpeleset, saya tahu anda seorang mahasiswa DKV dan jelas-jelas tampang anda jauh dari seorang sastrawan, bagaimana mungkin anda memposisikan diri sebagai aktifis kegiatan rajin menulis?" kata seorang sahabat entah dari mana.
Sejujurnya saya tidak tahu siapa sahabat yang ngoceh itu, dan saya tidak akan berniat minta maaf sama sekali atas fenomena membingungkan ini (sy menggunakan kata fenomena agar permasalhan terdengar lebih kompleks).
Posisi sy memang kurang etis dalam hal ini, tetapi satu hal yang jelas, saya suka tulisan dan menulis. Jadi tidak masalahkan jika saya mengajak orang lain agar menyukai apa yang saya suka. Jika ini menjadi masalah anda sehingga kemudian tidak bisa tidur,... itu sangat lucu, dan menyenangkan bagi saya. Membuat orang yg tak dikenal tidak bisa tidur itu menyenangkan. Apa? sya mendengar ada yang mengatakan, "Kau mengganggu bangsat!"
Kita ke topik saja, jujur saya sangat tidak suka basa-basi. Dan empat paragraf diatas bukan basa -basi itu hanya sekedar omong kosong. Saya memperoleh teknik baru dalam penulisan yang saya sebut interview diri sendiri, bacaan seperti ini kemungkinan di baca seseorang lebih tinggi dari sekedar menulis beratus-ratus paragraf. Jadi kita langsung saja..
W: Sejak kapan anda menulis?
G: Kenapa anda bertanya seolah-olah anda wartawan majalah sastra?
W: .........
G: Oke itu bercanda, saya menulis sejak kelas 6 sd
W: bisa diceritakan knp anda bisa menulis?
G: Kali ini anda benar2 seperti wartawan majalah sastra... dimana anda belajar?
W: Hey, bisa tidak tanpa bercanda seperti itu, semua tahu ini hanya percakapan yang dibuat satu orang. Sang penulis bisa terlihat berkepribadian ganda, kurasa tampangnya sudah cukup membuat hidupnya menyedihkan, jangan ditambah isu -isu kepribadian ganda.
G: Oke, oke saya mengenal kondisinya, tetapi saya hanya berusaha membuat tulisan ini terlihat lebih lucu.
W: Jawab saja!
G: Ah, ya waktu itu yang jelas bukan pelajaran matematika, kelas saya disuruh menulis catatan sehari-hari seperti buku harian. Sejak saat itu saya menulis walaupun terputus-putus.
W: Ceritakan kenapa anda bisa terus menulis?
G: Tunggu, sejenak saya berpikir saya seperti orang bodoh, membuat pertanyaan sendiri dan menjawabnya sendiri pula.
W: Saya sejak awal merasa seperti itu,...
G: Jadi apa kita lanjutkan?
W: Sudah terlanjur di cap bodoh oleh orang yang mungkin membaca ini, jika dihentikan, tetap saja terlihat bodoh, jadi lanjutkan saja, jawab saja pertanyaan sebelumnya..
G: Hm.. ada hal yang menarik dari kegiatan menulis catatan sehari-hari, menulis setiap pemikiran anda setiap hari itu akan sangat berguna sehingga di kemudian hari anda bisa mengevaluasi segala pemikiran anda sejak kecil dan melihat bagaimana otak anda berkembang.
Apa anda akan bertanya lagi?
W: lanjutkan saja..
G: Jadi seperti menulis kegiatan sehari-hari, aktifitas anda disebuah buku akan membuat anda sadar bahwa selama ini hidup anda memiliki suatu pola yg berkembang, yang belakangan saya sadari setelah membaca kembali catatan-catatan lama. Bagaimana di masa SMP saya hanya berpikir tentang hubungan relasi antar teman-teman, dan bagaimana saya melihat gadis yang saya suka, kemudian memasuki kelas yang tinggi dimana saya mulai mengkhawatirkan akan apa yang saya lakukan kedepan. Dan berpikir lebih kompleks tentang sebab akibat.
Semua itu tercatat dengan baik di buku catatan, dan banyak pemikiran saya yang saya tulis disana. Saya kaget sendiri ternyata saya sudah memikirkan pemerintahan Indonesia sejak kelas 3 SMP, dimana, saya menulis sesuatu yg bahkan sy sendiri terkadang berpikir, knp sy bisa menulis seperti itu. tulisan kecil itu seperti ini, "Negara ini lucu mengadakan UAN, selamanya pemerintahan akan berjalan kaku jika tidak ada perubahan dari pemerintah, pergerakan!"
Apa ini masih wawancara?
W: saya masih disini, menarik..
G: Saya sendiri selalu tak menyangka dengan apa yang saya pikirkan dulu..
W: Bukan itu, kata-kata tentang "melihat gadis yang saya sukai." Saya bisa membayangkan anda seperti laki-laki penakut.
G: Kurasa kita membicarakan masalah yang lebih kompleks saat ini..
W: Anda sudah bercerita tentang masa SMP, bagaimana dengan SMA? Saya yakin anda masih mencatat tentang mengintip gadis yang disukai..
G: Hey, apa anda menyadari anda menyindir diri sendiri?
W: Ada yang salah dengan menyindir diri sendiri? Kurasa tidak.. ayo ceritakan lagi tentang kecacatan anda yang lain..
G: ..... Di masa SMA, saya mencatat tentang bagaimana saya memutuskan pindah ke SMA yg lebih bermutu. Di masa ini kegiatan menulis cukup kurang karena proses pembelajaran yg cukup intens.. hingga akhir SMA kelas 3 saya mencatat tentang bagaimana dilema saya tentang UAN yang saya publish di facebook. Berjudul, SISI TERGELAP UJIAN NASIONAL, ini tulisan yang terpengaruh dari catatan saya dimasa SMP.
Selanjutanya saya masih terus mencatat berbagai hal-hal yang terjadi di Indonesia, dari gempa bumi, berita yang menghebohkan dunia, dan berbagai istilah2 yg menurut saya penting. Semuanya tercatat tidak rapi, dan berbagai selipan catatan kecil.
W: Saya sangat sedih..
G: Anda seharusnya bangga, kenapa?
W: Anda bahkan tidak menyinggung sama sekali tentang seorang gadis..., dibanding SMP ini jauh lebih menyedihkan
G: ..... Mengenai hal itu..., (membolak-balik halaman) kurasa saya menulis beberapa gadis, tetapi sepertinya saya lebih tertarik dengan hal-hal yang lebih kompleks sehingga mereka terlupakan.
W: Terdengar sangat familiar, berusaha melupakan karena tidak mampu..
G: Kurasa kita semua mengerti perbedaan imbuhan ter- dan me-, bisa beri saya pertanyaan yang lain?
W: Anda gay?
G: Kurasa anda perlu melihat koleksi majalah porno saya.., dimana point yg menghubungkan menulis dengan perilaku menyimpang itu?
W: Jadi anda normal?
G: Saya bahkan lebih normal dari seorang Arjuna. Apa anda akan kembali ke topik utama? Atau saya pulang saja..
W: Hmm, anda hanya menulis catatan sehari-hari, apa anda pernah menulis sebuah novel atau cerita?
G: Sering sekali, sejak SD walaupun itu dalam bentuk komik, kemudian saya pernah menulis novel tentang kekacauan dunia dimasa depan, berbau permainan politik dan perang antar negara, dengan intinya penciptaan mesin waktu yang mengakibatkan negara-negara saling berperang merebutkan mesin itu.
W: Apa novel itu selesai?
G: Tidak selesai, karena laptop saya yg di instal ulang dan datanya hilang, hanya sepupu2 saya yang pernah membaca cerita itu hingga halaman ke-60an Microsoft word dengan ukuran font 12.
Kemudian banyak lagi cerita-cerita yang saya tulis, ada yang selesai dan ada yang tidak selasai karena tersesat sendiri di tengah cerita.
W: Lalu betapa percaya dirinya anda mengajak orang lain menulis dengan rekor menulis yang buruk seperti itu...
G: Jangan terlalu menekan saya dengan hal sepele,
W: Sebutkan judul-judul cerita yang pernah anda tulis, saya cukup siap mendengar judul-judul norak..
G: Perahu masa depan, Leo, lengkingan di Laboratorium, Hati yang tak selesai, Githa dan Sherlock Holmes Palsu, ada beberapa lagi namun tak berjudul,
W: dari judul-judul diatas mana yang selesai?
G: Lengkingan di Laboratorium, Githa dan Sherlock Holmes Palsu... Leo sebenarnya selesai tapi ikut hilang bersama Perahu masa Depan.
W: Astaga, cuma 2?!!
G: ......eh, 3
W: Kurasa 2, anda benar-benar tak tahu malu mengajak orang lain menulis!
G: Saya pulang..
W: Tunggu dulu, buat pesan terakhir anda?
G: Apa maksudnya pesan terakhir? Sebagai wartawan perhatikan bahasa yang anda gunakan.., ajakan terakhir di wawancara bodoh ini.
Satu hal yang pasti menulis itu memberi manfaat bagi anda. Sejak dulu tulisan terkadang lebih jujur dari kata-kata sehingga terciptalah surat. Dengan menuliskan pemikiran anda pada sesuatu, tanpa anda sadari, anda akan mampu melihat sesuatu lebih dalam dengan menalaah setiap kata-kata yang anda tulis. Secara tidak langsung anda kemudian akan lebih mengenal diri anda dan menjadi lebih terbuka dengan setiap kejadian.
Mulailah menulis apa saja. Jika anda orang yang mengutamakan persahabatan tulislah bagaimana sahabat anda hari ini atau hubungan anda dengan sesama. Atau seorang yang mengamati perkembangan perpolitikan di Indonesia, tulislah bagaimana kasus Ariel Luna yang mampu menutupi pemeriksaan kasus Bibiet - Chandra, ataupun anda gemar yang lain tulislah tentang hal itu.
Anggaplah setiap anda menulis, anda meninggalkan jejak dibumi ini. Walaupun mungkin saya tidak sehebat orang-orang besar yang pernah menulis karya sastra luar biasa, tetapi biarlah catatan kecil tulisan saya bisa menjadi pesan untuk seseorang dimasa depan. Saya selalu bersemangat jika membayangkan cucu-cucu saya membaca tulisan kakeknya di masa lalu.
W: Hey, apa kau lupa saya masih disini..
Ayo menulis!
Diposting oleh
Galang Ekaputra Larope
di
08.09
Kamis, 17 Juni 2010
Label:
buku harian
,
catatan
,
galang ekaputra larope





No response to “Ayo menulis!”
Posting Komentar