Salam dulu deh, sudah cukup lama saya meninggalkan keyboard sy untuk menulis sesuatu. Yap, slamat siang buat yang sempat baca blog ini. ^^ oke...... sapaan saya tak perlu di balas, lagi pula anda tak cukup gila untuk menyapa sebuah layar komputer.
Saya punya suatu cerita yang menarik dan harapan saya banyak agar siapapun yang membaca note ini bisa merubah cara pandang dan pikirannya yang kadang sering ter-setir oleh pandangan banyak orang lainnya. Anda yang sering ngaskus, ataupun bisa di sebut orang up to date, pasti kenal istilah "Alay".... ini bukan tipe virus baru ataupun suatu jenis makanan tertentu, tetapi suatu istilah trend yang di pakai orang yang merasa bukan Alay, untuk mengelompokan orang2 tertentu, baik itu dari segi fashion, hair style, ketikan sms, apapun itu yang bagi saya sama sekali tidak bisa di pahami.
Saya pada awalnya juga berpikiran sama seperti kebanyakan orang yang mengaku dirinya normal. Yup benar, tidak menyukai komplotan ini, tapi hingga suatu pengalaman terjadi membuat saya bisa membuka pikiran saya.
Wktu itu sy jalan2 bersama tmn2 sy di sebuah mall. Saya seperti biasa berjalan paling blakang, bukan karena saya cukup gemuk untuk membuat saya ketinggalan beberapa langakah, tetapi memang seperti itu, saya lbh suka jalan santai, agar disesuaikan dengan tampang saya yang selalu malas. Tiba-tiba teman sya yang di depan bergerak lincah agak sedikit akrobatik, mulutnya melompat ke kuping teman sya yang satu lagi. "Apa yang dia lakukan? padahal KFC udah di depan mata, tp saking laparnya apakah ia akan mengorbankan kuping temannya?" Oh, ternyata tidak, dia tak seperti Mike tyson yg hobi makan kuping. Ia berbisik ke pada temannya, sambil pandangan mereka mengarah ke seorang mas dengan celana skini berwarna cerah, luaran tak kalah cerah, rambut menutupi mata, sementara rambut bagian atas berdiri tegak menyala-nyala oleh gatsbi wax. Saya mendekati mereka, penasaran apa yang mereka bisikan...
"Noh tuh.. alay.. alay.." kata si pembisik.
"ckckckckc... parah ya.." Jawab si terbisik.
Wajah mereka tersenyum-senyum melihat remaja itu. Jelas saja, saya heran. Apa yang menjadi masalah mereka?
Ada sebuah pertanyaan menarik, "Mengapa kita tidak menyukai bahkan mungkin memojokan orang yang BAHKAN TIDAK KITA KENAL karena gaya dan style mereka?"
Saya dulu pernah menanyakan pada tmn saya, "Apa sih Alay, kalimat gaul dari mana lagi?" Maka saya di jelasin, Alay = Anak Lebay..., oke baiklah... Memang terkadang yang berlebihan itu tidak baik. Air yang berlibihan tidak baik, api yang berlebihan tidak baik, tapi apakah harus alay di anggap tidak baik juga? Sehingga foto2 mereka di kumpul terus dimasukin internet, dan segara melabeli foto itu HEY INILAH ALAY, AYO TERTAWAI MEREKA! Hey hey, nonsense...
Baiklah, apa kita pernah di pukuli oleh seorang berpenampilan alay? apakah mata kita tiba2 terserang virus ganas hingga merosot mines 100 saat melihat mereka? Atau mungkin kita tiba2 beneren muntah saat melihat tulisan besar kecil berbaur nomor yg di artikan huruf? Jika itu yang terjadi, pantaslah mereka sungguh di pojokan. Tapi, kenyataannya? kita bahkan tidak mengenal mereka, sifat mereka, namun kita segera saja menilai mereka kampungan atau apalah, hey jangan menilai buku dari covernya...., ini pesan lama bung, jangan sampai pesan lama ini harus di berikan kepada anda yang modern ini...,
Saya punya sahabat berpenampilan seperti itu, dy orang yang benar2 baik dan sangat ramah, tapi saya sangat sedih saat tahu kebanyakan orang pasti mencibirnya saat berjalan2 di daerah para org normal. Dia orang baik, kenapa harus di pojokan seperti itu hanya karena sehelai baju yang menurut dia baik, dan celana yang sanggup ia beli setelah bekerja keras? Oke baikalh,.. Celana itu memang jadul dan tak sebaik celana mahal milik ZARA, tapi menurut saya itu justru jauh lebih berharga dari celana ratusan ribu yang dibelikan oleh orang tua kita.
Tiap manusia itu berbeda, pengelompokan yang sering terjadi saat ini bagi saya sungguh menyedihkan. Kita sudah di kelompokan dalam Suku, Ras, Agama, Partai dan lain-lain yang sungguh tidak penting, apakah perlu ditambah lagi dengan pengelompokan Alay? Tentu saja perlu! Jawab salah seorang maniak pembenci Alay.
Okelah, Alay hanyalah salah satu contoh yang kebetulan saya angkat. Tetapi, pengelompokan seperti ini banyak terjadi, kaum itu di pojokan seenak hati kita tanpa tau untuk apa kita memojokan mereka. Yang saya tangkap ini hanyalah upaya kesenangan dan hiburan yang tanpa anda ketahui mungkin dampaknya tak sekecil yang kita bayangkan, karena sungguh jelas tak ada keuntungan yang bisa di raup oleh suatu pihak dari fenomena ini. Baiklah anda tak perlu melanjutkan membaca note ini jika anda berpikir, : "siapa yang peduli jika mereka sakit hati? Mereka alay, saya tidak peduli." Jika ini sudah benar2 terjadi, saya tak ragu-ragu lagi untuk bersalaman dengan anda menggunkan penyengat listrik voltase tinggi.
Ada petikan dari seseorang yang saya baca, "Hey, saya tidak ikut-ikutan menertawai, tapi hanya kasihan pada mereka," Kalimat ini benar-benar salah jika ia ingin menunjukan ia tidak ikut2an membenci alay. Saya rasa dia tak memiliki alasan yang jelas apa yang layak di kasihani dari apa yg dia sebut alay. Bagi saya dialah yang pantas dikasihani..
Yah kesimpulannya, saya hanya ingin berbagi pikiran; bahwa manusia itu jauh jauh dan jauuh lebih kompleks dari yang kita bayangkan. Misalnya kalung yang anda kenakan saat ini pasti memiliki cerita tersendiri dalam hidup anda, atau mungkin cincin, topi yang anda kenakan. Itu tak secara sengaja hadir dalam diri anda. Begitu juga dengan apa yang anda sebut alay, pakaian mereka memiliki cerita tersendiri, mengapa mereka menggunakan SMS seperti itu, mungkin itu yang membuat mereka lebih nyaman. Dan itu tak ada salahnya kan?, janganlah bergabung dengan group pembenci Alay yang belakangan ada di Facebook. Saya tidak akan menebak-nebak; bahwa anda bergabung dengan group ITU AGAR TIDAK DI KATAI ALAY,(mungkin anda akan memberikan feedback seperti ini: "Apakah kamu sendiri mau di bilang Alay?" saya akan menjawab: "Saya tidak masalah apa yang dinilai orang dari saya, silahkan jika kriteria sy mencukupi, labeli saya dengan nama tersebut) apa keuntungan yang kita dapat dari group pembenci alay? Oh, ya mungkin kita bisa sharing tentang temuan2 alay jenis baru.. Hmm... benar-benar sharing yang sungguh berguna dan membangun bangsa. Jika keadaan seperti ini yang terjadi..., saya jadi bertanya-tanya sendiri, disini SIAPA YANG LEBAY? Well, so yang terpenting adalah saling menghargai satu sama lain, ini bukan suatu yang bisa di tawar bung! -galang





No response to “SIAPA YANG ALAY”
Posting Komentar